Oleh: Adhe Bakong/Jurnalis Muda
Dalam negeri yang katanya menjunjung daulat rakyat, ironis benar nasib para hulubalang, penjaga hukum dan ketenteraman negeri yang kerap dipaksa berhadap-hadapan dengan tuannya sendiri. Mereka yang sejatinya dibayar dari peluh dan keringat rakyat jelata, justru ditugaskan menjadi perisai bagi mereka yang bergelimang kuasa. Di medan protes dan suara lantang rakyat, hulubalang menjadi tameng; tubuh dan jiwa mereka dipertaruhkan demi mempertahankan singgasana yang tak lagi bersih dari noda.
Alangkah malangnya nasib para pengawal negeri. Mereka bukan anak raja, bukan pula darah bangsawan. Mereka pun rakyat, lahir dari rahim yang sama, rahim bumi yang telah dimiskinkan oleh tangan dzalim. Namun ketika rakyat bersuara, tangan merekalah yang lebih dahulu mengangkat tameng, bukan tangan para durjana yang duduk ongkang kaki di balai kekuasaan, meneguk kopi di atas penderitaan jelata.
Negeri apa ini, di mana pelayan negeri dipaksa memukul tuannya sendiri? Di mana keringat rakyat dibalas dengan pentungan, dan tangis ibu-ibu dipadamkan dengan gas dan selang?
Pejabat korup berjalan lenggang di lorong-lorong istana, dengan langkah ringan dan senyum licik. Mereka menjadikan hukum sebagai alat, bukan pelita. Menyusun aturan demi melindungi diri dan kroni, sementara rakyat disuruh sabar, disuruh patuh, disuruh diam. Sungguh terbalik dunia ini; langit dan bumi seperti sudah bertukar tempat.
Demokrasi, oh demokrasi, engkau tinggal nama. Engkau telah lama koma, dikhianati oleh tangan-tangan yang dulu bersumpah akan menjagamu. Kini, rakyat hanya tinggal penonton dalam panggung yang didalangi para pembesar yang rakus dan tak tahu malu.
Namun yakinlah, dalam darah rakyat masih mengalir bara. Bara itu belum padam. Bara itu akan menyala kembali. Karena daulat bukan milik pejabat, melainkan milik rakyat. Pejabat hanyalah pesuruh; pelayan yang diangkat oleh tuannya untuk menyejahterakan, bukan memerintah semena-mena.
Biarlah rakyat, sang tuan sejati demokrasi, yang kelak membangunkan kembali ruh keadilan yang telah lama tertidur. Biarlah gelombang suara dari kampung-kampung, dari lorong-lorong sempit dan ladang yang gersang, kembali menggema dan menggetarkan kursi kekuasaan.
Dan kepada hulubalang negeri, ingatlah asalmu, bahwa engkau bukan perisai kekuasaan, melainkan pelindung rakyat. Jangan biarkan dirimu terus dijadikan tumbal oleh mereka yang tak kenal malu. Karena saat negeri ini benar-benar roboh, yang pertama akan tertimpa reruntuhan adalah kita semua, bukan mereka yang sudah menyiapkan pelarian.